Harian Berita — Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan terhadap sistem kesehatan di Malaysia semakin terasa. Salah satu penyebab utamanya adalah meningkatnya jumlah penderita Gagal Ginjal Kronis yang kini membutuhkan penanganan intensif dengan biaya sangat besar.
Menteri Kesehatan Malaysia, Dzulkefly Ahmad, mengungkapkan bahwa pengeluaran negara untuk menangani pasien ginjal stadium akhir melonjak tajam dibandingkan satu dekade lalu. Jika sebelumnya hanya sekitar Rp2,4 triliun pada 2010, kini angkanya sudah mencapai sekitar Rp14 triliun per tahun.
Kenaikan ini menunjukkan peningkatan lebih dari lima kali lipat dalam kurun waktu sekitar 15 tahun. Selain jumlah pasien yang terus bertambah, biaya juga terdorong oleh kompleksitas penanganan penyakit yang semakin tinggi.
Penyakit ginjal kronis pada tahap lanjut umumnya membutuhkan terapi jangka panjang seperti cuci darah rutin atau transplantasi. Hal ini membuat beban pembiayaan menjadi sangat besar, baik bagi pemerintah maupun pasien.
Diabetes Mellitus Jadi Pemicu Dominan
Pemerintah Malaysia menemukan bahwa Diabetes Mellitus menjadi faktor utama di balik meningkatnya kasus gagal ginjal. Penyakit ini dapat merusak fungsi ginjal secara perlahan jika tidak dikontrol dengan baik.
Sebagai langkah antisipasi, dana dari pajak minuman berpemanis digunakan untuk membiayai pengobatan modern. Salah satunya adalah terapi inhibitor SGLT2 yang terbukti mampu membantu pasien diabetes sekaligus menurunkan risiko komplikasi ginjal.
Untuk menekan biaya sekaligus meningkatkan efisiensi layanan, pemerintah juga mendorong penggunaan metode Peritoneal Dialysis. Metode ini memungkinkan pasien melakukan proses dialisis secara mandiri di rumah.
Selain memberikan kenyamanan lebih bagi pasien, cara ini juga membantu mengurangi beban rumah sakit. Pemerintah bahkan mengalokasikan dana khusus sekitar Rp172 miliar pada 2025 untuk mendukung program tersebut.
Kebijakan ini mulai menunjukkan hasil yang cukup positif. Persentase pasien yang menggunakan metode peritoneal dialysis di fasilitas pemerintah meningkat dari 36,6 persen pada 2020 menjadi 42 persen pada 2025.
Lebih dari 3.000 pasien telah merasakan manfaat langsung dari program ini, baik dari sisi kenyamanan maupun efisiensi biaya.
Ancaman Baru Pasca Pandemi
Setelah menghadapi pandemi COVID-19, Malaysia kini dihadapkan pada tantangan lain berupa meningkatnya penyakit tidak menular. Gagal ginjal menjadi salah satu yang paling mengkhawatirkan karena dampaknya yang luas.
Penyakit ini tidak hanya memengaruhi kualitas hidup pasien, tetapi juga berpotensi membebani anggaran negara dalam jangka panjang.
Lonjakan kasus ini menjadi peringatan penting bahwa pencegahan harus menjadi prioritas utama. Tanpa langkah yang tepat, jumlah pasien diperkirakan akan terus meningkat.
Pemerintah kini harus menyeimbangkan antara upaya menekan kasus baru dan menjaga keberlanjutan pembiayaan kesehatan. Edukasi masyarakat, pengendalian diabetes, serta gaya hidup sehat menjadi kunci utama untuk mengurangi risiko di masa depan.
Jika tidak ditangani sejak dini, penyakit kronis seperti gagal ginjal dapat berkembang menjadi krisis kesehatan yang lebih besar.
